Anak Jalanan dan Palembang

Beberapa hari yang lalu, aku pergi ke Palembang, lima jam perjalanan dari kotaku. Karena ada keperluan mendadak, akhirnya aku memutuskan pergi dengan jasa travel berangkat jam setengah 9 malam.  Sampai di loket Palembang sekitar jam setengah dua pagi.

Sambil menunggu di jemput oleh saudaraku, aku memperhatikan sekeliling. Di sekitar loket itu masih ada beberapa penjual kaki lima yang buka. Ada juga indomaret yang buka 24 jam. Rasanya agak takut juga karena yang berjaga di loket laki-laki semua. Tapi mereka tampaknya baik. Dalam hati aku hampir menyesali keputusanku pergi jam 9 karena sampai dini hari, bahaya bagi perempuan. Masih untung aku pergi bersama keponakan perempuanku yang masih berumur 6 tahun, jadi tidak benar-benar sendirian.

Tiba-tiba sudut mataku menangkap gerakan di seberang jalan. Tadi tidak begitu terperhatikan olehku. Ternyata ada seorang anak laki-laki kecil sekitar umur 10 tahun-an yang sedang berusaha memasukkan tangannya ke dalam baju kaosnya, sehingga lengan bajunya melambai-lambai tak bertangan. Setelah itu dia meneruskan tidurnya kembali. Dia memasukkan tangannya agar merasa hangat dan tidak diganggu nyamuk. Tanpa alas, tanpa bantal dan tanpa selimut. Agak jauh darinya, ada dua orang dewasa yang juga tidur di emperan toko, sama sepertinya.

Aku tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaanku saat itu. Sampai saat ini pun aku masih terus membayangkan sosok  anak tersebut walaupun wajahnya tak terlihat jelas. Aku ingin menyeberang jalan yang lebar kala itu, sekedar ingin memberinya roti yang aku bawa sebagai bekal perjalanan atau mungkin memberinya sedikit uang untuk dia membeli makan. Tapi aku perempuan. Aku takut melangkah keluar dari loket dan menyeberangi jalan di tengah malam seperti itu. Saat itu aku amat membenci diriku yang tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk apa kau merasa bersimpati, tapi kau sama sekali tak membantu, tak bisa memberinya apa-apa padahal kau punya. Ingin rasanya aku memeluk anak itu dan menawarinya kasur dan selimut yang empuk, makanan yang mengenyangkan, tapi aku hanya duduk diam dan memandangnya dari jauh. Jadi apa gunanya simpatimu itu?

Aku jadi memikirkan, bagaimana kalau ada tempat penampungan untuk mereka. Sekedar untuk tidur di malam hari dan makan ala kadarnya. Tidak usah menuntut perubahan dari mereka , hanya memberikan mereka tempat untuk bernaung saja. Mungkin saja setelah itu baru berbagai pelatihan-pelatihan untuk memberi mereka keterampilan yang bisa menghasilkan uang. Atau mungkin memberi mereka modal untuk berjualan kecil-kecilan, dengan tetap memberi mereka tempat untuk bernaung.

Sungguh Allah memberi mereka cobaan di dunia dengan kesengsaraan, tapi Allah pasti akan menggantikannya dengan kesenangan di akhirat. Aku jadi sedih, bagaimana dengan kita yang banyak merasakan kesenangan di dunia ini?  Bisa tidur nyenyak, bisa makan enak, bisa merasakan kesenangan dunia tanpa merasakan kesulitan yang berarti? Ya Allah, bagaimana dengan kami ini?…………………..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s